Minggu, 02 Juli 2017

Industri Batik di Indonesia Bak Terlahir Kembali




Dipicu sejumlah faktor, industri batik Indonesia yang sempat terpuruk kini mulai bangkit kembali. Antusiasme pelaku bisnisnya kini semakin menggelora. Bagaimana geliatnya?



Siang itu, 17 Maret 2011, suasana konter Batik Lasem di ruang pameran JHCC Jakarta cukup riuh. Sekelompok ibu-ibu tampak membolak-balikkan beberapa potongan batik seraya menanyakan  harga batik yang dipegangnya kepada beberapa tenaga penjual yang ada di konter itu.  Tak kurang dari 7 pengunjung berada dalam konter, sementara 10-an orang lainnya  tengah antri di luar konter. Batik Lasem memang termasuk peserta pameran yang  laris-manis pada event pameran yang menampilkan ratusan pengrajin binaan BUMN-BUMN  dengan berbagai bidang usaha itu. Ya, laris-manis. Setidaknya, hal itu mudah  diketahui dari konter Batik Lasem yang selalu dipadati pengunjung selama 5 hari  pameran, dari tanggal 16-20 Maret 2011.   

Kegairahan suasana konter Batik Lasem pada pameran pengrajin-pengrajin binaan BUMN  itu memang telah terlalu berlebihan bila dikatakan telah mewakili potret industri batik  secara nasional yang dalam tiga tahun ini menggeliat. Toh demikian, sesungguhnya  tidak bijak pula mengatakan kegairahan Batik Lasem sama sekali tidak ada hubungannya dengan  sentimen positif pada industri batik nasional. Ya, memang demikianlah faktanya, industri batik nasional kini tengah berbunga-bunga. Sedang menggeliat kembali.

Bila disimak, setidaknya ada tiga faktor yang memicu kebangkitan industri batik di tanah air. Pertama,  klaim Malaysia atas paten batik yang hal itu mendorong nasionalisme untuk  mempertahankan batik di berbagai penjuru tanah air. Ancaman dari luar itu rupanya  menjadi blessing indisguese bagi industri batik karena rasa memiliki batik di  kalangan masyarakat Indonesia menjadi semakin terpompa. Kedua, pengakuan UNESCO  bahwa batik merupakan kekahasan budaya milik Indonesia, bukan negara lainnya. Ketiga,  dorongan dari pemerintah.

Ya, dorongan pemerintah memang punya andil signifikan dalam kebangkitan industri  batik. Dalam hal ini bukan hanya pada aspek kebijakan, namun lebih pada anjuran untuk memakai  batik pada hari Jumat di berbagai instansi pemerintah. Aturan ataupun anjuran untuk  memakai batik ini pada gilirannnya menciptakan efek multiplier yang kuat. Selain  para pegawai negeri kembali mau membeli dan memakai batik, nyatanya hal itu kemudian  juga diikuti perusahaan-perusahaan swasta yang juga mewajibkan – atau setidaknya menganjurkan -- karyawannya memakai batik  pada hari-hari kerja tertentu. Tak bisa dinafikan, hal-hal itulah yang kemudian  membuat pasar batik semakin mekar.

Geliat industri batik itu jelas terlihat dari kinerja pemain-pemain lama di bisnis  batik maupun antusiasme pemain baru. Malahgan juga bisa dipotret dari perkembangan  terkini di sentra-sentra batik, khususnya di Pulau Jawa. Sebut saja di sentra batik  di Solo seperti Lawean dan Kauman, Sentra Batik Giriloyo di Bantul Jogjakarta, juga  di kota-kota lain seperti di Sokaraja (Banyumas), Pekalongan, Madura dan juga  beberapa sentra di kota-kota Jawa Barat, bahkan juga di Bali.

Di Lawean Solo, yang secara historis dikenal sebagai pusat batik Jawa misalnya,  kesan sumringah bisnis batik nyata kelihatan. Alfa Fabela, Ketua Forum Pengembangan  Kampoeng Batik Laweyan (FKBL) menjelaskan, sentra batik Lawean sempat mengalami masa suram beberapa tahun. Namun dalam empat tahun terakhir tumbuh sangat baik. Khususnya  "sejak  batik ditetapkan bebagai warisan budaya asli Indonesia oleh Unesco dan tahun 2010  Laweyan ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya,” kata Alfa. Bila saat terpuruk  jumlah pengusaha batik di sentra ini tinggal 16 orang, kini sedikitnya ada 63 pengusaha. Dari  jumlah itu terdiri dari pengusaha yang produksi penuh (33%), produksi setengah jadi  (33%), dan pedagang (33%).

Berdasarkan pantuan SWA ke sentra-sentra batik di Kauman Solo, Giriloyo Bantul,  Pekalongan dan Tanjung Bumi (Bangkalan, Madura), kondisinya setali tiga uang. Di  sentra batik Desa Tanjung Bumi Kecamatan Tanjung Bumi yang jaraknya 41 km dari Kota  Bangkalan Madura itu gariah bisnis batik juga kentara. Misrawi, staf Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kab Bangkalan, menjelaskan, “Di Desa Tanjung Bumi  setidaknya sudah ada 60 kelompok pengrajin batik". Bahkan menurut Ahmadi, salah satu  pengusaha batik Tanjung Bumi yang punya lebih dari 70 karyawan, kini pengrajin batik  tidak hanya tinggal di desanya, Tanjung Bumi, melainkan juga sudah menyebar hingga ke  desa sekitar seperti Telaga Biru, Paseseh, Bumi Anyar, Larangan, Tambak Pocok,  Bandang, Macajeh, Tlangoh, Tagungguk dan Bangkeng.

Di Jawa Barat pun fenomenanya tak jauh berbeda. Dijelaskan Sendy Yusuf, Ketua Umum Yayasan  Batik Jawa Barat, sejak 3 tahun ini perkembangan kantong-kantong pengrajin batik di  Jawa Barat meningkat pesat. Bila sebelumnya tak lebih dari 10 kabupaten yang memiliki  kantong-kantong pengrajin batik maka saat ini tak kurang dari 26 kabupaten/kota yang  telah memiliki sentra pengrajin batik.  Mulai dari Bandung, Garut, Tasikmalaya,  Ciamis, Subang, Cianjur, Bogor, Sukabumi, Cirebon, Trusmi, Indramayu, hingga Majalengka. "Jawa Barat memiliki 250 motif batik yang coraknya sesuai masing-masing  kabupaten," terang Sendy yang juga istri Dede Yusuf, Wagub Jabar ini.

Tak bisa disangkal, geliat bisnis batik juga mudah dibaca dari kiprah dan kinerja  pemain-pemain lama di industri batik seperti Batik Danar Hadi, Batik Keris, Batik  Semar,  Batik Sida Mukti, dan sejawatnya. Batik Semar yang kini  dikelola generasi ketiga, sebagai contoh, juga mendapatkan blessing dari kebangkitan  bisnis batik. Dijelaskan Ananda Soewono, Managing Director PT Batik Semar, dua tahun terakhir  pertumbuhan bisnis mencapai 40%-50% per tahunnya. Saat ini Batik Semar memproduksi  kain cetakan motif batik sekitar 60-70 ribu meter per bulan. “Ini masih bisa di-push  sampai 3 kali lipatnya. Permintaan untuk produksi batik tinggi, makanya kita mau  tingkatkan lagi produksinya,” kata generasi ketiga di Batik Semar ini. Tak heran,  tahun ini Batik Semar juga akan memperkuat bisnisnya dengan melakukan rebranding.

Kiprah Batik Danar Hadi bahkan lebih dahsyat lagi. Mengimbangi bisnisnya terus tumbuh,  salah satu perusahaan batik terbesar di Indonesia ini terus memperkuat struktur  bisnisnya dengan masuk di semua lini. Batik Danarhadi menggarap bisnis batik dari  hulu hingga hilir, terintegrasi dari bahan baku hingga produk jadi. Produksinya  dipusatkan di satu kawasan seluas kira-kira 20 hektar di daerah Karanganyar Jateng.  Bahkan mereka juga sanggup membuat Museum Batik yang sangat ikonik dan monumental di  Solo. Museum ini menyimpan 10-an ribu karya batik dari yang bercorak kuno hingga kontemporer.

Sementara itu, pemain besar lainnya, Batik Keris juga semakin gairah menggarap pasar  dengan berbagai strategi branding yang intens. Batik Keris aktif melakukan fashion  show di berbagai mall dan hotel untuk memamerkan desain batik karya-karyanya yang  siap dilempar ke pasar. Pola show yang dijalankan dari mulai yang join dengan pemain  lain hingga yang fashion show tunggal, khusus menampilkan produk-produk Batik Keris.  Sementara distribusi produk juga diperkuat dengan penetrasi di mall-mall dan  mendirikan outlet Batik Keris sendiri.

Pemain-pemain di bisnis batik sendiri sesungguhnya tak hanya nama-nama yang sudah  populer seperti Danar Hadi, Keris, Semar atau Sida Mukti, namun masih banyak nama  lain yang kiprah bisnisnya tak bisa disepelekan (lihat tabel!). Mereka punya cara dan  kiat sendiri dalam mengembangkan ceruk pasarnya. 

Yang jelas, manisnya kue bisnis batik rupanya juga mendorong pemain-pemain baru yang  sebelumnya tak pernah terpikir menggarap bisnis batik. Bahkan diantara beberapa  pemain baru itu sanggup memberi warna lain di bisnis batik karena mampu menyodorkan  konsep-konsep produk batik alternatif yang keluar dari pakem. Antara lain Dee Ong  yang mengorbitkan Batik 118 dan Lenny Agustin yang mengusung batik merek Lennor  bersama dua mitranya. Juga Batik Alleira dan Obin. Banyak muncul pemain baru yang  tidak punya latarbelakang bisnis batik sebelumnya.

Dee Ong, misalnya, sejak awal memang penggemar batik dan suka memakai pakaian batik.  Lantaran teman-temannya suaminya (Richard Ong) mengatakan pakain yang dikenakannya  bagus hingga kemudian tertarik membisnisnyanya dan ternyata sukses hingga ke manca  negara. Lenny Agustin lain cerita, latarbelakang dia perancang busana dan suatu saat  merancang batik dalam sebuah pameran yang ternyata sambutannya sangat antusias hingga  kemudian membisniskannya. Lalu, Batik Tayada juga didirikan oleh kongsi seorang guru  TK dan lulusan arsitek. Sementara itu, Catur Wijaya, entrepreneur muda dari Solo  pendiri Batik Sekar Setaman juga bukan datang dari keluarga pengusaha batik Laweyan  atau Kauman.

Beberapa diantara pendatang baru ini ada yang sanggup memberi warna lain di industrinaya. Ada yang mampu menciptakan corak batik yang nabrak pakem dan kemudian diikuti pemain lain, namun ada juga yang mampu memberi warna secara bisnis. Contohnya mampu melakukan premiumisasi produk batik sehingga tidak terkesan produk murahan. Hal ini misalnya dilakukan Obin, Alleira, Parang Kencana dan Batik 118.  Dee Ong misalnya, menginformasikan,  harga batiknya mulai dari Rp 6 juta, namun ada juga  yang seharga Rp 80 juta. Dus, sudah separoh harga mobil baru.

Selain itu, geliat bisnis batik juga ikut membangkitkan industri-industri ikutannya.  Termasuk di lini ritel. Kini makin banyak ritel-ritel khusus batik. Contohnya  seperti dilakukan Henry Husada, pengusaha factory outlet  di Bandung. Henry  mendirikan Galeri Citta Batik yang berada di dalam FO Runaway miliknya di  kawasan  Dago Bandung. “Batik harus bisa bersinergi dengan factory outlet. Apalagi Bandung ini  tujuan wisatawan nasional dan internasioal,” Henry yang juga pemilik jaringan hotel  Kagum Group menjelaskan alasan strategi bisnisya.

Menarik, perkembangan bisnis batik yang digerakkan pemain lama dan baru tersebut secara makro  juga berdampak positif pada ekonomi Indonesia. Diam-diam, pada tahun 2010 lalu jumlah  tenaga kerja yang terlibat di bisnis batik sudah lebih dari 700 ribu orang  dengan nilai kapitalisasi produksi diatas Rp 3 triliun. Jumlah unit usaha batik juga  sudah diatas 50.000 unit usaha (lihat tabel!). Kemudian bila dilihat dari nilai  ekspornya, bila tahun 2006 nilai ekspor batik baru sekitar US$ 14 juta namun pada  2010, dari ekspor yang terpantau Departemen Perdagangan, nilainya sudah diatas US$ 22  juta.  "Untuk pasar dalam negeri sendiri, industri batik menyumbang sekitar 0,8  persen dari Produk Domestik Bruto," terang Menteri Perdagangan (Mendag) Mari Elka  Pengestu beberapa waktu lalu.

Kebijakan pemerintah sendiri tampaknya memang cukup kondusif dalam hal penggalakan industri  batik. Berbeda dengan kebijakan-kebijakan lain yang cenderung retorik dan jauh dari  implementasi di lapangan, maka khusus sektor industri batik, mesti diakui sikap  pemerintah sudah on the track. Pemerintah pusat maupun di daerah memberi dukungan  yang cukup untuk menggalakkan batik. Bisa jadi awalnya karena dipicu adanya 'musuh  bersama' Malaysia. Pemerintah pusat melalui departemen terkait dan juga pemda-pemda,  banyak memfasilitasi adanya pameran-pameran dan fesitival batik. Di daerah,  pemda-pemda menghidupkan sentra-sentra kerajinan batik dan mendorong studi banding.  Beberapa sentra batik yang sempat pudar pun juga dibangkitkan kembali dengan berbagai  cara, termasuk dengan mendirikan peguyuban atau yayasan pengrajin batik.

BUMN-BUMN dan bank pemerintah pun memberikan bantuan kredit ringan dan pembinaan ke UKM  batik. Tentang hal ini juga diakui Catur Wijaya, pemilik Batik Sekar Setaman. Tahun  2010 lalu, Catur mendapatkan pinjaman modal Rp 50 juta dari dari BNI  dengan jangka  waktu pinjaman 3 tahun. Ia merasa cukup terbantu dengan program pinjaman bagi UKM  ini karena juga memperoleh fasilitas untuk lebih banyak memasarkan produknya.   “Misalnya kalau ada pameran, kita mendapat fasilitas tempat gratis,” ungkap Catur.

Kementerian UKM dan Koperasi di pusat juga memberi perhatian tersendiri guna  menggalakkan entrepreneurship bidang batik. Salah satunya melalui SMESCO  (small medium enterprises and cooperatives), yang bertujuan mengubah pandangan  masyarakat yang selama ini memandang produk UKM kualitasnya kurang bagus. Kementrian  ini memfasilitasi mereka dengan mendirikan UKM Gallery di Jl Gatot Subroto Jakarta  sehingga para perajin batik bisa mendisplay produk-produknya. “SMESCO ingin  mengangkat pengrajin-pengrajin yang punya produk unggulan khususnya batik,” kata  Astika, Manager UKM Gallery.

Yang juga boleh dilupakan, baik pemerintah pusat dan di daerah juga berkomitmen untuk  mewajibkan karyawannya memakai baju patik pada hari-hari yang telah ditentukan.  Kebijakan ini secara sangat signifikan mendorong iklim positif di bisnis batik karena perusahaan-perusahaan swasta pun kemudian banyak mengikuti langkah serupa. Demikian juga publik pada umumnya, kini  semakin banyak warga masyakat profesional yang tak malu lagi mengenakan baju batik  dan tak melihatnya sebagai hal yang kuno.

Bagi para pelaku bisnis batik, jelas, kondisi saat ini merupakan momentum emas. Ini  kesempatan besar bagi pemain lama maupun pemain baru untuk meningkatkan skala  bisnisnya di bisnis batik -- sebuah bisnis yang selain bagus dari sisi ekonomi namun  juga mengandung nilai pelestarian budaya bangsa. Kini saat yang tepat untuk  memperluas cakupan pasar. Tak sedikit pihak yang meyakini, industri batik akan kembali menjadi  mainstream di bisnis fashion dan aparel. Sebab itu, jangan sampai kegairah pasar batik saat ini tersia-siakan. Ya,  dalam dunia bisnis, peluang jarang datang untuk yang kedua kalinya. So, tunggu apa lagi!